<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Serikat Petani Pati</title>
	<atom:link href="http://wongtani.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wongtani.wordpress.com</link>
	<description>ketika segalanya berawal dari tanah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2007 04:38:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='wongtani.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/b80731a34a445b2c7e85af0cd5108554?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Serikat Petani Pati</title>
		<link>http://wongtani.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Mencari Ladang Gembala yang Baru</title>
		<link>http://wongtani.wordpress.com/2007/05/14/mencari-ladang-gembala-yang-baru/</link>
		<comments>http://wongtani.wordpress.com/2007/05/14/mencari-ladang-gembala-yang-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2007 04:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wongtani</dc:creator>
				<category><![CDATA[singgah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wongtani.wordpress.com/2007/05/14/mencari-ladang-gembala-yang-baru/</guid>
		<description><![CDATA[Disadur oleh Uzair Fauzan dari tulisan Chris Pollock dan Jules Pretty di Weekly NewScientist, 21 April 2007. Chris Pollock adalah mantan direktur Institute of Grassland and Environmental Research di Aberystwyth, UK. Jules Pretty adalah profesor lingkungan dan masyarakat di University of Essex di Colchester, UK.
Pertanian akan menghancurkan planet kecuali kita segera mencari cara baru yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wongtani.wordpress.com&blog=1021257&post=23&subd=wongtani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em><font face="Times New Roman">Disadur oleh Uzair Fauzan dari tulisan Chris Pollock dan Jules Pretty di </font><a target="_blank" href="http://environment.newscientist.com/channel/earth/mg19426006.300-pastures-new-may-destroy-the-planet.html"><font face="Times New Roman">Weekly NewScientist, 21 April 2007</font></a><font face="Times New Roman">. Chris Pollock adalah mantan direktur Institute of Grassland and Environmental Research di Aberystwyth, UK. Jules Pretty adalah profesor lingkungan dan masyarakat di University of Essex di Colchester, UK.</font></em></p>
<p><font face="Times New Roman"><em>Pertanian akan menghancurkan planet kecuali kita segera mencari cara baru yang lebih “berkelanjutan”, kata Chris Pollock dan Jules Pretty</em>.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Pembangunan berkelanjutan adalah mantra abad 21. Konsep ini diterapkan pada semua hal, mulai dari energi hingga air bersih dan pertumbuhan ekonomi. Sebagai efek dari pembicaraan yang bertubi-tubi, walhasil kita acapkali sulit mempertanyakan asumsi-asumsi dasarnya atau penerapannya. Hal ini terutama terjadi pada wilayah pertanian, satu wilayah ekonomi yang paling kerap dianggap sebagai satu-satunya ladang pembuktian pembangunan berkelanjutan tanpa disertai oleh perspektif kultural dan historis.</font><font face="Times New Roman">Penting untuk diingat di awal bahwa hakikat pertanian–keuntungan dan dampaknya pada lingkungan–telah banyak berubah sepanjang sejarah, dan akan selalu berubah. Rotasi pertanian abad pertengahan di Eropa Utara menyuplai dan melindungi masyarakat desa berpenduduk padat dengan efek yang lebih rendah daripada sekarang. Rotasi itu berdampak kecil pada keragaman hayati, dan polusi yang ditimbulkannya umumnya bersifat lokal. Dalam hal pemanfaatan energi dan nutrisi yang ada dalam produknya, masa-masa itu bisa dibilang tidak efisien.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span id="more-23"></span>Pertentangkanlah pertanian masa-masa itu dengan awal revolusi industri. Persaingan yang dipicu oleh para petani dari luar negeri berdampak pada spesialisasi dan peningkatan produk pangan. Sepanjang periode (persaingan) ini, makanan menjadi lebih murah, aman dikonsumsi dan lebih bisa diandalkan. Tetapi, perubahan ini juga menciptakan kerusakan lingkungan dan membahayakan keragaman hayati di tanah pertanian dan desa-desa sekitarnya. Flora dan fauna di UK sekarang dalam kondisi yang sangat buruk, dan menurut Badan Lingkungan, pertanian menjadi pemicu terpenting timbulnya berbagai kasus polusi yang serius.</font><span></span><span> </span></p>
<p><font face="Times New Roman">Parahnya, beberapa praktik pertanian tertentu yang dianggap berkelanjutan mungkin menciptakan dampak buruk yang tak terduga. Misalnya, penanaman sayur-sayuran penetralisir nitrogen bisa menimbulkan kadar nitrogen yang berlebihan di dalam tanah, yang mengakibatkan eutrophication; pembalikan tanah (pembajakan) bisa mengakibatkan tanah kehilangan karbon, zero tillage (upaya mengurangi gangguan tanah ketika mengolah tanaman) membutuhkan herbisida.</font></p>
<p style="text-align:justify;"><font face="Times New Roman">Yang menjadi perhatian kita adalah bahwa tekanan pada tanah kemungkinan akan meningkat setidaknya selama setengah abad ke depan, yang akan jauh mempersulit pertanian sebagai praktik yang berkelanjutan. Populasi dunia akan bertambah setidaknya sejumlah 2 miliar menjadi 9 miliar orang pada tahun 2045 atau 2050. Para ahli demografi berpendapat bahwa angka populasi itu akan stabil dan mungkin akan menurun pada beberapa abad berikutnya, tetapi masa itu masihlah jauh. Besar kemungkinan perubahan iklim akan sangat mengurangi hasil pangan dan ternak, terutama di daerah subtropis dan tropis, di mana pengurangan itu diperkirakan akan mencapai 5 dan 10 persen menjelang tahun 2050.</font> <font face="Times New Roman">Pada saat bersamaan, permintaan akan produk ternak di negara-negara berkembang tumbuh pesat hingga dibutuhkan 300 juta ton daging (grain) tambahan untuk memenuhinya pada tahun 2050. Namun pertumbuhan kota dan industri mengurangi jumlah air yang tersedia untuk pertanian di berbagai kawasan. Di UK, para petani masih bertanya-tanya apakah mereka bisa bertahan hidup dengan bertani tanpa subsidi. Pada sisi lain, gagasan tentang pemberian insentif pada petani atas jasa-jasa mereka dalam perlindungan pangan, pengurangan karbon (carbon sequestration), dan keragaman hayati beum terealisasi menjadi pendapatan bagi mereka.</font><font face="Times New Roman">Semua ini menunjukkan bahwa (metode) pertanian pada abad 21 haruslah sangat berbeda dengan abad 20. Perubahan ini mensyaratkan pemikiran radikal. Misalnya, kita perlu menanggalkan gagasan bahwa praktik-praktik tradisional pasti lebih berkelanjutan dibanding dengan praktik-praktik modern. Kita juga perlu menghilangkan gagasan bahwa pertanian memberikan “zero impact” pada lingkungan. Kunci dari semua itu adalah meninggalkan ukuran-ukuran keberlanjutan yang statis dan gampangan yang sudah menjadi kelumrahan, yang berpusat pada kebutuhan untuk mempertahankan produksi tanpa memperbanyak kerusakan.</font></p>
<p style="text-align:justify;"><font face="Times New Roman">Kita justru lebih memerlukan tafsiran yang lebih dinamis, yang mencermati pro-kontra atas beragam cara pengolahan tanah. Selain hasil panen, ada banyak cara untuk mengukur kinerja pertanian yaitu penggunaan energi, biaya lingkungan, kemurnian air, carbon footprint, keragaman hayati. Sudah jelas, misalnya, bahwa biaya karbon untuk mengirim tomat dari Spanyol ke UK adalah lebih kecil dibanding memproduksinya sendiri di UK dengan pemanasan dan penyinaran tambahan (asalkan hal ini diperoleh dari sumberdaya yang bisa diperbarui). Tapi kita tidak tahu apakah <em>carbonfootprint</em> yang lebih rendah akan selalu lebih baik untuk keragaman hayati.</font></p>
<p style="text-align:justify;"><font face="Times New Roman">Hal krusial yang perlu dilakukan adalah pengakuan bahwa pertanian yang berkelanjutan tidak hanya menyangkut produksi pangan yang berkelanjutan. Dalam kerangka keragaman hayati, dua perubahan terbesar yang terjadi belakangan di UK mengikuti perubahan dari <em>spring-sown cereal</em> menjadi <em>winter-sown </em>cereal dan perubahan <em>dari hay making</em> <em>ke silage production</em>. Meski keduanya merupakan perubahan manajemen sederhana, tetapi mereka mengubah keseimbangan antara elemen-elemen non-pertanian dengan pertanian di bumi dan menimbulkan dampak besar pada burung-burung di daerah pertanian. Kacamata yang memperluas gambaran ini penting sekali dimiliki. Jika kita tidak memilikinya, kita hanya akan terus mengulangi <em>lip service </em>pada prinsip keberlanjutan tanpa mencari tahu cara-cara untuk memperbaikinya.</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wongtani.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wongtani.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wongtani.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wongtani.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wongtani.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wongtani.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wongtani.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wongtani.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wongtani.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wongtani.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wongtani.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wongtani.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wongtani.wordpress.com&blog=1021257&post=23&subd=wongtani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wongtani.wordpress.com/2007/05/14/mencari-ladang-gembala-yang-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b05d48f43ec0c67e728d05273bf0e05?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">wongtani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesta Rakyat di Tengah Kota</title>
		<link>http://wongtani.wordpress.com/2007/04/24/pesta-rakyat-di-tengah-kota/</link>
		<comments>http://wongtani.wordpress.com/2007/04/24/pesta-rakyat-di-tengah-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 14:29:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wongtani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wongtani.wordpress.com/2007/04/24/pesta-rakyat-di-tengah-kota/</guid>
		<description><![CDATA[


Tidak ada amplop yang dibagikan buat para pementas malam itu. Mulai dari grup karawitan anak-anak, kelompok tonil Kloset dari Solo, kelompok musik etno hingga Slamet Gundono, semuanya bermain dengan hanya imbalan nasi bungkus. Lebih dari sekedar menghibur, permainan seni mereka menggemakan solidaritas untuk memfungsikan kembali ruang publik yang mulai terampas.  
Sore itu, 15 Maret 2007, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wongtani.wordpress.com&blog=1021257&post=5&subd=wongtani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p><span></span><span></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p><span><em>Tidak ada amplop yang dibagikan buat para pementas malam itu. Mulai dari grup karawitan anak-anak, kelompok tonil Kloset dari Solo, kelompok musik etno hingga Slamet Gundono, semuanya bermain dengan hanya imbalan nasi bungkus. Lebih dari sekedar menghibur, permainan seni mereka menggemakan solidaritas untuk memfungsikan kembali ruang publik yang mulai terampas.</em></span><span><em> </em><span id="more-5"></span></span><span> </span></p>
<p><span>Sore itu, 15 Maret 2007, areal sekitar stadion Joyokusumo tampak amat menyenangkan. Ratusan orang terlihat antusias menghabiskan waktu mereka di sekitar stadion. Di sebelah barat laut stadion, kawanan anak-anak muda bersemangat mempertontonkan atraksi berbahaya di atas sepeda motor yang kencang melaju. Dengan tanpa bekal alat-alat pelindung, mereka seolah ingin menegaskan eksistensi di hadapan ratusan orang yang menonton atraksi-atraksi akrobatiknya. Di sebelah barat stadion, sedikitnya empat kelompok anak muda sedang bertanding di dua lapangan basket. Salah satu kelompok itu menyempatkan diri berfoto bersama layaknya pemain profesional. Ratusan orang lainnya lebih suka menghabiskan sore mereka di dalam stadion menyaksikan pertandingan klub kesebelasan lokal PERSIPA dengan PSIS U-23.</span></p>
<p><span> Tepat di tengah-tengah semua aktivitas itu, sebuah grup karawitan anak-anak memainkan gending-gending Jawa di atas sebuah panggung besar.<span style="font-family:'Arial Narrow';"> <span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><em><img align="left" src="http://wongtani.files.wordpress.com/2007/04/gending-jawa.thumbnail.jpg" alt="gending-jawa.jpg" /></em></span></span></span><span style="font-family:'Arial Narrow';">Tak seperti aktivitas lain di stadion itu, grup karawitan ini bisa dipastikan tak saban hari mempertontonkan kemampuan mereka di <span style="font-family:'Arial Narrow';"> </span>sana. <span style="font-family:'Arial Narrow';"><span></span></span>Sore itu, dengan seragam beskap Jawa berwarna kuning dan tiga orang sindennya, grup karawitan “Mudo Laras” dari Tlogowungu tampil meramaikan perhelatan yang digagas oleh Serikat Petani Pati (SPP) dalam rangka acara Safari Gotong Royong hasil kerjasama dengan Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB). </span></span></p>
<p><span><span style="font-family:'Arial Narrow';">Menurut panitianya, kegiatan ini bertujuan untuk menggugah kepedulian peneliti, akademisi, aktivis pengembangan masyarakat dan jajaran birokrat untuk berpihak pada kepentingan petani dan menumbuhkan budaya gotong royong semua stakeholder itu dalam mengatasi permasalahan riil petani. Seperti namanya, beban acara ini dipikul bersama oleh para petani Pati dan jaringan-jaringannya.</span></span><span> </span><span><span style="font-family:'Arial Narrow';">Ada yang khusus menjadi donatur, ada yang bekerja siang malam mendirikan tenda dan mempersiapkan perlengkapan acara seperti yang dilakukan kelompok punk Blora, ada yang khusus memberikan expertise untuk memecahkan persoalan tanaman seperti akademisi IPB dan LSM Nastari. Ada juga yang memilih menyumbang acara, seperti grup karawitan yang merupakan jaringan dari kelompok Sapto Darmo ini.</span><span style="font-family:'Arial Narrow';"> </span></span><span> </span><span><span style="font-family:'Arial Narrow';"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span style="font-family:'Arial Narrow';">Meski uyon-uyon yang mereka suguhkan tak cukup berhasil menarik massa dalam jumlah besar sore itu, <span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><em><img align="right" src="http://wongtani.files.wordpress.com/2007/04/kloset3.thumbnail.jpg" alt="kloset3.jpg" /></em></span></span>grup karawitan ini sedikitnya mampu <span style="font-family:'Arial Narrow';"><span></span></span>menggugah keingintahuan warga sekitar. Tak sedikit yang mendekat dan mencari tahu gerangan macam apa yang tengah berlangsung di sekitar panggung ini. <span style="font-family:'Arial Narrow';"><span></span></span>Ibarat makanan pembuka, grup karawitan ini menjadi pembangkit selera yang meretas massa untuk grup-grup kesenian lain yang juga manggung malam itu. Belakangan, daerah di sekitar panggung ini benar-benar menjadi magnet tunggal yang bersinar.</span><span style="font-family:'Arial Narrow';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span style="font-family:'Arial Narrow';"></span></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span style="font-family:'Arial Narrow';">Tanpa diawali sambutan ini-itu, grup musik etnoansamble dari Solo <span style="font-family:'Arial Narrow';"><span></span></span>menjadi pembuka pertunjukan malam harinya. Suguhan musik yang didominasi alat perkusi seolah menjadi genderang perang yang menyemangati warga datang mendekat. Perpaduan musik etno dan modern yang apik ini kemudian disusul oleh penampilan kelompok Kloset yang menyuguhkan teater karikatural tentang bencana dan early warning system yang marak digagas akhir-akhir ini. Penampilan mereka yang kocak tak bisa tidak membuat penonton tergelak (bahkan beberapa balita di belakang saya pun tertawa terbahak-bahak). Dengan gaya mereka yang interaktif, semua orang menjadi merasa terlibat dalam pertunjukan ini. </span></span></p>
<p><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span style="font-family:'Arial Narrow';">Kegembiraan malam itu diperpanjang dengan penampilan Slamet Gundono, seorang dalang yang mengklaim sudah kawentar sebagai dalang paling “berbobot”. Dengan lakon Bimo Dadi Tani, Slamet Gundono cs menampilkan pertunjukan yang jauh lebih gila daripada performance sebelumnya. <span><em><img align="left" src="http://wongtani.files.wordpress.com/2007/04/slamet-gundono.thumbnail.jpg" alt="slamet-gundono.jpg" /></em></span>Bagaimana tidak? Kelompok ini tidak saja menyuguhkan pertunjukan yang jauh “menyalahi” pakem pewayangan, mereka bahkan mengaku baru menyiapkan cerita beberapa jam sebelumnya. <span></span>Improvisasi menjadi karakter yang sangat menonjol dalam pertunjukan ini. <span></span>Penonton dilibatkan jauh lebih dalam, tidak hanya menjadi pengiring musik ala acapella tetapi juga berkesempatan menyelingi cerita. Di sini, cerita bukan menjadi tumpuan utama pertunjukan Slamet Gundono cs. Ending cerita yang menggantung menjadi tidak penting, jika disandingkan dengan semangat kebersamaan yang ingin ditonjolkan dalam pertunjukan ini.</span><span style="font-family:'Arial Narrow';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span style="font-family:'Arial Narrow';"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span style="font-family:'Arial Narrow';">Kebersamaan, interaksi, dan spontanitas memang tampak menjadi substansi yang menjiwai acara ini. Kebersamaan bukan hanya tampak dari persiapan acara yang dilakukan secara gotong royong, tetapi juga ditunjukkan oleh absennya kursi penonton dan panggung (panggung hanya dipakai untuk gamelan dan kelompok karawitan). Tidak ada lagi batas antara penonton dan penyuguh pertunjukan (performer). Struktur yang kerap membelenggu menjadi ternegasikan. Ruang-ruang partisipatif seolah kembali dibuka dengan karakter pertunjukan yang interaktif dan spontan. Pertunjukan ini laksana menjadi oase ditengah menguatnya gelombang pasifikasi publik dan menyurutnya ruang-ruang partisipatif di tengah kota. </span></span></span></p>
<p><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span style="font-family:'Arial Narrow';">Malam itu, setidaknya rakyat berkesempatan merayakan kembali kebersamaan mereka.</span></span></span></p>
<p></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wongtani.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wongtani.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wongtani.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wongtani.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wongtani.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wongtani.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wongtani.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wongtani.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wongtani.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wongtani.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wongtani.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wongtani.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wongtani.wordpress.com&blog=1021257&post=5&subd=wongtani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wongtani.wordpress.com/2007/04/24/pesta-rakyat-di-tengah-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b05d48f43ec0c67e728d05273bf0e05?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">wongtani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wongtani.files.wordpress.com/2007/04/gending-jawa.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gending-jawa.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wongtani.files.wordpress.com/2007/04/kloset3.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kloset3.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wongtani.files.wordpress.com/2007/04/slamet-gundono.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">slamet-gundono.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>