Diarsipkan di bawah: singgah
Disadur oleh Uzair Fauzan dari tulisan Chris Pollock dan Jules Pretty di Weekly NewScientist, 21 April 2007. Chris Pollock adalah mantan direktur Institute of Grassland and Environmental Research di Aberystwyth, UK. Jules Pretty adalah profesor lingkungan dan masyarakat di University of Essex di Colchester, UK.
Pertanian akan menghancurkan planet kecuali kita segera mencari cara baru yang lebih “berkelanjutan”, kata Chris Pollock dan Jules Pretty.
Pembangunan berkelanjutan adalah mantra abad 21. Konsep ini diterapkan pada semua hal, mulai dari energi hingga air bersih dan pertumbuhan ekonomi. Sebagai efek dari pembicaraan yang bertubi-tubi, walhasil kita acapkali sulit mempertanyakan asumsi-asumsi dasarnya atau penerapannya. Hal ini terutama terjadi pada wilayah pertanian, satu wilayah ekonomi yang paling kerap dianggap sebagai satu-satunya ladang pembuktian pembangunan berkelanjutan tanpa disertai oleh perspektif kultural dan historis.Penting untuk diingat di awal bahwa hakikat pertanian–keuntungan dan dampaknya pada lingkungan–telah banyak berubah sepanjang sejarah, dan akan selalu berubah. Rotasi pertanian abad pertengahan di Eropa Utara menyuplai dan melindungi masyarakat desa berpenduduk padat dengan efek yang lebih rendah daripada sekarang. Rotasi itu berdampak kecil pada keragaman hayati, dan polusi yang ditimbulkannya umumnya bersifat lokal. Dalam hal pemanfaatan energi dan nutrisi yang ada dalam produknya, masa-masa itu bisa dibilang tidak efisien.
Pertentangkanlah pertanian masa-masa itu dengan awal revolusi industri. Persaingan yang dipicu oleh para petani dari luar negeri berdampak pada spesialisasi dan peningkatan produk pangan. Sepanjang periode (persaingan) ini, makanan menjadi lebih murah, aman dikonsumsi dan lebih bisa diandalkan. Tetapi, perubahan ini juga menciptakan kerusakan lingkungan dan membahayakan keragaman hayati di tanah pertanian dan desa-desa sekitarnya. Flora dan fauna di UK sekarang dalam kondisi yang sangat buruk, dan menurut Badan Lingkungan, pertanian menjadi pemicu terpenting timbulnya berbagai kasus polusi yang serius.
Parahnya, beberapa praktik pertanian tertentu yang dianggap berkelanjutan mungkin menciptakan dampak buruk yang tak terduga. Misalnya, penanaman sayur-sayuran penetralisir nitrogen bisa menimbulkan kadar nitrogen yang berlebihan di dalam tanah, yang mengakibatkan eutrophication; pembalikan tanah (pembajakan) bisa mengakibatkan tanah kehilangan karbon, zero tillage (upaya mengurangi gangguan tanah ketika mengolah tanaman) membutuhkan herbisida.
Yang menjadi perhatian kita adalah bahwa tekanan pada tanah kemungkinan akan meningkat setidaknya selama setengah abad ke depan, yang akan jauh mempersulit pertanian sebagai praktik yang berkelanjutan. Populasi dunia akan bertambah setidaknya sejumlah 2 miliar menjadi 9 miliar orang pada tahun 2045 atau 2050. Para ahli demografi berpendapat bahwa angka populasi itu akan stabil dan mungkin akan menurun pada beberapa abad berikutnya, tetapi masa itu masihlah jauh. Besar kemungkinan perubahan iklim akan sangat mengurangi hasil pangan dan ternak, terutama di daerah subtropis dan tropis, di mana pengurangan itu diperkirakan akan mencapai 5 dan 10 persen menjelang tahun 2050. Pada saat bersamaan, permintaan akan produk ternak di negara-negara berkembang tumbuh pesat hingga dibutuhkan 300 juta ton daging (grain) tambahan untuk memenuhinya pada tahun 2050. Namun pertumbuhan kota dan industri mengurangi jumlah air yang tersedia untuk pertanian di berbagai kawasan. Di UK, para petani masih bertanya-tanya apakah mereka bisa bertahan hidup dengan bertani tanpa subsidi. Pada sisi lain, gagasan tentang pemberian insentif pada petani atas jasa-jasa mereka dalam perlindungan pangan, pengurangan karbon (carbon sequestration), dan keragaman hayati beum terealisasi menjadi pendapatan bagi mereka.Semua ini menunjukkan bahwa (metode) pertanian pada abad 21 haruslah sangat berbeda dengan abad 20. Perubahan ini mensyaratkan pemikiran radikal. Misalnya, kita perlu menanggalkan gagasan bahwa praktik-praktik tradisional pasti lebih berkelanjutan dibanding dengan praktik-praktik modern. Kita juga perlu menghilangkan gagasan bahwa pertanian memberikan “zero impact” pada lingkungan. Kunci dari semua itu adalah meninggalkan ukuran-ukuran keberlanjutan yang statis dan gampangan yang sudah menjadi kelumrahan, yang berpusat pada kebutuhan untuk mempertahankan produksi tanpa memperbanyak kerusakan.
Kita justru lebih memerlukan tafsiran yang lebih dinamis, yang mencermati pro-kontra atas beragam cara pengolahan tanah. Selain hasil panen, ada banyak cara untuk mengukur kinerja pertanian yaitu penggunaan energi, biaya lingkungan, kemurnian air, carbon footprint, keragaman hayati. Sudah jelas, misalnya, bahwa biaya karbon untuk mengirim tomat dari Spanyol ke UK adalah lebih kecil dibanding memproduksinya sendiri di UK dengan pemanasan dan penyinaran tambahan (asalkan hal ini diperoleh dari sumberdaya yang bisa diperbarui). Tapi kita tidak tahu apakah carbonfootprint yang lebih rendah akan selalu lebih baik untuk keragaman hayati.
Hal krusial yang perlu dilakukan adalah pengakuan bahwa pertanian yang berkelanjutan tidak hanya menyangkut produksi pangan yang berkelanjutan. Dalam kerangka keragaman hayati, dua perubahan terbesar yang terjadi belakangan di UK mengikuti perubahan dari spring-sown cereal menjadi winter-sown cereal dan perubahan dari hay making ke silage production. Meski keduanya merupakan perubahan manajemen sederhana, tetapi mereka mengubah keseimbangan antara elemen-elemen non-pertanian dengan pertanian di bumi dan menimbulkan dampak besar pada burung-burung di daerah pertanian. Kacamata yang memperluas gambaran ini penting sekali dimiliki. Jika kita tidak memilikinya, kita hanya akan terus mengulangi lip service pada prinsip keberlanjutan tanpa mencari tahu cara-cara untuk memperbaikinya.
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>










siang wr.wb.
Komentar oleh abdallah rikza November 3, 2007 @ 6:28 amtanpa sengaja aq ketemu web-pe serikat petani pati.sebagi wong pati sing nang jombang jatim turut memberikan apresiasi karo serikat tsb.
kita sebagai wong tani yang selama ini selalu nerimo ing pandom sudah saatnya merumuskan langkah2 strategis supaya mantra abad 21 yang ente katakan tidak hanya sepatas impian,tentunya ini tidak bisa dilakukan satu dua orang tp kolektivitas anak2 petani-lah yang harus berjuang…….slamt berjuang salam kenal sesama anak petani..!
Serikat Petani Pati,
salut untuk perjuangannya membela petani gurem, di daerah Pati, tetapi tentunya idealisme yang ada sekarang jangan sampai berbelok menjadi hal yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kepentingan yang tidak jelas juntrungnya, atau hanya sebagai lahan “garapan” baru untuk LSM, para petani di negeri ini selalu bersabar dan bersabar dan selalu menerima apa adanya.
Komentar oleh Zikos Februari 1, 2008 @ 1:11 pmsudah saatnya petani belajar untuk tidak selalu dibodohi.
VIVA petani !
Halo Mas…
Salam kenal dari kami, BABAD dari Purwookerto. Untuk kenal kami lebih jauh anda dapat membuka http://www.tegalan_online.blogspot.com
Kami telah mendengar beberapa aktivitas SPP yang terkait dengan respon terhadap bencana, terutama banjir pati.
Untuk itu, Kami bermaksud berkunjung ke sekretariat saudara untuk berdiskusi lebih lanjut tentang respon bencana yang pernah dilakukan oleh SPP. Selanjutnya, mohon informasi tentang contact person dan alamat/no telp yang bisa dihubungi.
Terimakasih
Salam kenal
Komentar oleh Widya (BABAD) Februari 5, 2008 @ 5:02 amWidya (Purwokerto)