Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Tidak ada amplop yang dibagikan buat para pementas malam itu. Mulai dari grup karawitan anak-anak, kelompok tonil Kloset dari Solo, kelompok musik etno hingga Slamet Gundono, semuanya bermain dengan hanya imbalan nasi bungkus. Lebih dari sekedar menghibur, permainan seni mereka menggemakan solidaritas untuk memfungsikan kembali ruang publik yang mulai terampas.
Sore itu, 15 Maret 2007, areal sekitar stadion Joyokusumo tampak amat menyenangkan. Ratusan orang terlihat antusias menghabiskan waktu mereka di sekitar stadion. Di sebelah barat laut stadion, kawanan anak-anak muda bersemangat mempertontonkan atraksi berbahaya di atas sepeda motor yang kencang melaju. Dengan tanpa bekal alat-alat pelindung, mereka seolah ingin menegaskan eksistensi di hadapan ratusan orang yang menonton atraksi-atraksi akrobatiknya. Di sebelah barat stadion, sedikitnya empat kelompok anak muda sedang bertanding di dua lapangan basket. Salah satu kelompok itu menyempatkan diri berfoto bersama layaknya pemain profesional. Ratusan orang lainnya lebih suka menghabiskan sore mereka di dalam stadion menyaksikan pertandingan klub kesebelasan lokal PERSIPA dengan PSIS U-23.
Tepat di tengah-tengah semua aktivitas itu, sebuah grup karawitan anak-anak memainkan gending-gending Jawa di atas sebuah panggung besar.
Tak seperti aktivitas lain di stadion itu, grup karawitan ini bisa dipastikan tak saban hari mempertontonkan kemampuan mereka di sana. Sore itu, dengan seragam beskap Jawa berwarna kuning dan tiga orang sindennya, grup karawitan “Mudo Laras” dari Tlogowungu tampil meramaikan perhelatan yang digagas oleh Serikat Petani Pati (SPP) dalam rangka acara Safari Gotong Royong hasil kerjasama dengan Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB).
Menurut panitianya, kegiatan ini bertujuan untuk menggugah kepedulian peneliti, akademisi, aktivis pengembangan masyarakat dan jajaran birokrat untuk berpihak pada kepentingan petani dan menumbuhkan budaya gotong royong semua stakeholder itu dalam mengatasi permasalahan riil petani. Seperti namanya, beban acara ini dipikul bersama oleh para petani Pati dan jaringan-jaringannya. Ada yang khusus menjadi donatur, ada yang bekerja siang malam mendirikan tenda dan mempersiapkan perlengkapan acara seperti yang dilakukan kelompok punk Blora, ada yang khusus memberikan expertise untuk memecahkan persoalan tanaman seperti akademisi IPB dan LSM Nastari. Ada juga yang memilih menyumbang acara, seperti grup karawitan yang merupakan jaringan dari kelompok Sapto Darmo ini. Meski uyon-uyon yang mereka suguhkan tak cukup berhasil menarik massa dalam jumlah besar sore itu,
grup karawitan ini sedikitnya mampu menggugah keingintahuan warga sekitar. Tak sedikit yang mendekat dan mencari tahu gerangan macam apa yang tengah berlangsung di sekitar panggung ini. Ibarat makanan pembuka, grup karawitan ini menjadi pembangkit selera yang meretas massa untuk grup-grup kesenian lain yang juga manggung malam itu. Belakangan, daerah di sekitar panggung ini benar-benar menjadi magnet tunggal yang bersinar.
Tanpa diawali sambutan ini-itu, grup musik etnoansamble dari Solo menjadi pembuka pertunjukan malam harinya. Suguhan musik yang didominasi alat perkusi seolah menjadi genderang perang yang menyemangati warga datang mendekat. Perpaduan musik etno dan modern yang apik ini kemudian disusul oleh penampilan kelompok Kloset yang menyuguhkan teater karikatural tentang bencana dan early warning system yang marak digagas akhir-akhir ini. Penampilan mereka yang kocak tak bisa tidak membuat penonton tergelak (bahkan beberapa balita di belakang saya pun tertawa terbahak-bahak). Dengan gaya mereka yang interaktif, semua orang menjadi merasa terlibat dalam pertunjukan ini.
Kegembiraan malam itu diperpanjang dengan penampilan Slamet Gundono, seorang dalang yang mengklaim sudah kawentar sebagai dalang paling “berbobot”. Dengan lakon Bimo Dadi Tani, Slamet Gundono cs menampilkan pertunjukan yang jauh lebih gila daripada performance sebelumnya.
Bagaimana tidak? Kelompok ini tidak saja menyuguhkan pertunjukan yang jauh “menyalahi” pakem pewayangan, mereka bahkan mengaku baru menyiapkan cerita beberapa jam sebelumnya. Improvisasi menjadi karakter yang sangat menonjol dalam pertunjukan ini. Penonton dilibatkan jauh lebih dalam, tidak hanya menjadi pengiring musik ala acapella tetapi juga berkesempatan menyelingi cerita. Di sini, cerita bukan menjadi tumpuan utama pertunjukan Slamet Gundono cs. Ending cerita yang menggantung menjadi tidak penting, jika disandingkan dengan semangat kebersamaan yang ingin ditonjolkan dalam pertunjukan ini.
Kebersamaan, interaksi, dan spontanitas memang tampak menjadi substansi yang menjiwai acara ini. Kebersamaan bukan hanya tampak dari persiapan acara yang dilakukan secara gotong royong, tetapi juga ditunjukkan oleh absennya kursi penonton dan panggung (panggung hanya dipakai untuk gamelan dan kelompok karawitan). Tidak ada lagi batas antara penonton dan penyuguh pertunjukan (performer). Struktur yang kerap membelenggu menjadi ternegasikan. Ruang-ruang partisipatif seolah kembali dibuka dengan karakter pertunjukan yang interaktif dan spontan. Pertunjukan ini laksana menjadi oase ditengah menguatnya gelombang pasifikasi publik dan menyurutnya ruang-ruang partisipatif di tengah kota.
Malam itu, setidaknya rakyat berkesempatan merayakan kembali kebersamaan mereka.
No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>









